Halaman

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2010

Ikhlas dan jauhi Riya

Alloh SWT selalu mengingatkan tentang apa saja yang akan kita lalui dalam kehidupan ini misalnya kematian, sakaratol maut, alam kubur, sampai alam akhirat. Bahkan detil pertanyaan yang akan diajukan ke setiap manusia pun dijelaskan, misalnya man robbuka?, Man nabiyyuka?, dll. Semua sudah diingatkan seperti tercantum dalam QS Al-Baqoroh 28, “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?. Atau dalam ayat lainnya,“Takutlah kamu, pada suatu hari dimana kamu kembali kepada Alloh. Tidak ada yang mampu menyelamatkan..”.

Sebagai langkah persiapan saat kita masih hidup di dunia, dalam beramal hendaknya ikhlas melakukan perbuatan baik dan menjauhkan maksiat, tidak memiliki harapan atau motivasi selain menggapai keridhoan Alloh SWT. Terkait dengan pentingnya Ikhlas, dalam kitab-kitab hadits bab Ikhlas selalu menjadi bab pertama, hikmahnya agar menjadi peringatan kepada orang-orang yang suka lupa.

Pensil Nenek

saya pernah membaca sebuah blog yang berisi tentang sebuah renungan, renungan yang dapat menjadi nasihat untuk anak" kita kelak,
berikut isi blog tersebut :


Seorang anak bertanya kepada neneknya yg sedang menulis sepucuk surat

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang Aku?"

Mendengar pertanyaan si Cucu, sang nenek berheti menulis dan berkata kepada cucunya,
"Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yg lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yg nenek pakai. Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar sang Nenek lagi.

mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya danbertanya kembali kepada si nenek, sebab dia tidak melihat ada yg istimewa pada pensil yg nenek pakai. "Tapi nek, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yg lainnya"
ujar si cucu.

Si nenek kemudian menjawab. "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini."
"Pensil ini mempunyai lima kualitas yg bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"kualitas pertama, Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yg hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yg selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya."

CINTA SEJATI SEORANG IBU TERHADAP ANAK-ANAKNYA

Wanita itu sudah tua, namun semangat perjuangannya tetap menyala seperti wanita yang masih muda. Setiap tutur kata yang dikeluarkannya selalu menjadi pendorong dan bualan orang disekitarnya. Maklumlah, ia memang seorang penyair dua zaman, maka tidak kurang pula bercakap dalam bentuk syair. Al-Khansa bin Amru, demikianlah nama wanita itu. Dia merupakan wanita yang terkenal cantik dan pandai di kalangan orang Arab. Dia pernah bersyair mengenang kematian saudaranya yang bernama Sakhr :


"Setiap mega terbit, dia mengingatkan aku pada Sakhr, malang. Aku pula masih teringatkan dia setiap mega hilang di ufuk barat Kalaulah tidak kerana terlalu ramai orang menangis di sampingku ke atas mayat-mayat mereka, nescaya aku bunuh diriku."

Setelah Khansa memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair telah digunakan untuk menyemarakkan semangat para pejuang Islam. Ia mempunyai empat orang putera yang kesemuanya diajar ilmu bersyair dan dididik berjuang dengan berani. Kemudian puteranya itu telah diserahkan untuk berjuang demi kemenangan dan kepentingan Islam. Khansa telah mengajar anaknya sejak kecil lagi agar jangan takut menghadapi peperangan dan cabaran.

Dari Kematian Hingga Kiamat

Telah kita ketahui pada pelajaran yang lalu, bahwa pengetahuan yang kita miliki ini sangatlah sedikit dan terbatas, maka kita tidak dapat mengetahui hakikat alam akhirat dan alam gaib secara mutlak. Hendaknya kita merasa cukup dengan serangkaian pengetahuan yang global yang dapat kita peroleh melalui dalil-dalil akal, dan dengan ciri-ciri khas serta sifat-sifat yang telah diterangkan oleh wahyu. Juga telah kami singgung pada pelajaran yang sama tentang sebagian sifat dan keistimewaan umum yang kita jumpai dari dalam dalil dalil akal. Berikut ini kami akan memaparkan sifat-sifat dan ciri-ciri khas akhirat yang dapat kita tarik dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Perlu kiranya kami tekankan bahwa sangat mungkin sebagian kalimat yang digunakan untuk menyifati alam akhirat itu berupa mutasyabih (tidak jelas maknanya), sehingga gambaran konseptual yang muncul di mental kita dari kalimat-kalimat tersebut tidak benar-benar tepat dan tidak sesuai dengan fakta dan mishdaq yang seutuhnya di luar. Ini bukan karena lemahnya penjelasan tersebut, tetapi hanya karena dangkalnya pemahaman kita. Sebab tidak syak lagi bahwa Al-Qur’an menggunakan kata dan kalimat yang paling fasih yang dapat digunakan untuk mengungkapkan hakikat tersebut, juga sesuai dengan daya paham dan nalar kita.

Mengingat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu pun menerangkan permulaan-permulaan hari ahkirat, pada kesempatan ini kami akan memulai pembahasan tersebut dari kematian manusia.

Setiap Manusia akan Mengalami Kematian

Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, akan mengalami kematian. Tidak seorang pun yang akan hidup kekal di dunia ini. Allah SWT berfirman,

“Semua yang ada di muka bumi ini akan fana.” (QS. Ar-Rahman: 36)